Artikel Utama

Catatan ke-32: Transformasi

31 Januari 2022

Catatan ke-35: Thanks to Diabetes Melitus Type 2 (DMT2)

Catatan ke-35: Thanks to Diabetes Melitus Type 2 (DMT2)


31 Januari 2022 | 

Lho, kena DMT2 kok malahan "terima kasih". Orang yang aneh! Okey, ini alasannya.
Sebelumnya, saya ga menyangka akan menjadi bagian dari penyandang gelar DMT2. Namun sudah garis tangan seperti itu, mau gimana lagi? Muterin waktu ke masa lalu jelas ga bisa. Iya kan..?

Pada umumnya, ada beberapa respon dari orang yang tervonis DMT2, yaitu:
  1. Syok, depresi, stress
  2. Ngomel-ngomel sendiri (ga tahu siapa yg disalahkan).
  3. Meratapi nasib, putus asa
  4. Enjoy saja, cuek
  5. (yang aneh) Berterima kasih

Awalnya, saya mengalami respon yg No.1 itu. Namun saya sangat sadar, hal itu tidak akan merubah keadaan dan akan menghambat produktivitas saya di masa depan. Tindakan yang saya ambil selanjutnya adalah mempelajari tentang DMT2. Apa saja yang saya pelajari?

  1. Akar masalah dari DMT2
  2. Karakteristik DMT2
  3. Dampak jangka pendek dan jangka panjang dari DMT2
  4. Pengelolaan DMT2

Dari proses hampir 4 bulan "berpacaran" dengan DMT2 itu, saya mendapatkan berbagai informasi dan wawasan baru. Termasuk yg terpenting adalah: perubahan pola hidup yang lebih sehat. Karena sebetulnya hal itu merupakan obat PALING AMPUH dari DMT2 dalam jangka panjang.
Namun yang menarik dari itu semua, saya mendapatkan pembelajaran tentang metabolisme tubuh. Hubungan DMT2 dengan sistem pencernaan, enzim, hormon, nutrisi, dll. Hal itu membawa saya untuk berpandangan lebih luas tentang kesehatan, tidak hanya terbatas pada DMT2. 

Jadi, bagi saya, apakah DMT2 merupakan "mudharat" atau "manfaat"?

Setelah saya timbang2, saya berkesimpulan: 

_Thanks to DMT2_

25 Januari 2022

Catatan ke-34: Faktor keturunan yang 10% itu ternyata menjadi salah satu penentu DM

Catatan ke-34: Faktor keturunan yang 10% itu ternyata menjadi salah satu penentu DM


25 Januari 2022 | 

Tulisan ini merupakan lanjutan dari diskusi saya dengan dokter spesialis jantung teman SMA saya yang pernah saya tuliskan sebelumnya dengan judul: "Advice dokter spesialis jantung, teman satu kos waktu SMA".
 
Saya akui, pemahaman saya agak keliru terkait dengan faktor KETURUNAN pada penderita DMT2...!!! Saya pernah baca jurnal  bahwa resiko DM yang disebabkan oleh faktor keturunan hanya 10%. Artinya apa? 90% DMT2 disebabkan oleh faktor selain keturunan (yaitu: pola hidup). Karena sepertinya belum pernah ada kasus orang normal berubah menjadi DMT2 dalam semalam karena diracun atau disantet... 🙏😁

Menurut teman saya tersebut, faktor keturunan tidak terlepas dari RESIKO DMT2. Ini bukan berarti orang DMT2 anaknya sudah pasti DMT2 juga lho ya... Hati-hati dengan interpretasi ini. Yang ingin saya tekankan adalah RESIKO-nya. Artinya apa? Seseorang yang orang tuanya memiliki riwayat DMT2 harus berhati-hati dengan KEMUNGKINAN dia terkena DMT2.

Teman saya tersebut mencontohkan begini:

Ada dua orang sama-sama obesitas, katakanlah si A dan si B. Orang tua si A punya riwayat DMT2 sedangkan orang tua si B tidak punya riwayat DMT2. Meskipun keduanya punya RESIKO terkena DMT2 yang disebabkan oleh obesitas tersebut, namun si A memiliki peluang terkena DMT2 2x lipat dari pada si B. Hal inilah yang (mungkin) menyebabkan orang sama-sama gemuk namun tidak mesti semuanya terkena DMT2.

Kesalahan pemahaman saya terletak di mana? Saya kira faktor keturunan tersebut merupakan RESIKO yang terpisah (parsial) dan bobotnya hanya 10%. Namun ternyata, dari penjelasan teman saya itu, faktor keturunan merupakan RESIKO pengali. Jadi dia bilang: “Jika kamu mengalami obesitas, dan orang tua kamu pernah ada yang terkena DMT2, maka resiko terkena DMT2 menjadi 2x lipat dari orang yang bapak/ibunya normal”. Kenyataannya, (alm.) ayah saya kena DMT2 di usia 40 tahun, stroke di usia 52 tahun dan serangan/gagal jantung di usia 53 tahun. Mungkin karena beliau hanya minum obat dari dokter namun tidak mau merubah pola hidup (cerita ibu saya).

Di sinilah letak edukasi sangat penting! Bagi siapa saja yang terkena DMT2, sebaiknya mulai menerapkan pola hidup sehat agar: 1) Terhindar dari komplikasi akibat GD tinggi terus-terusan, dan 2) Memberikan contoh pola hidup sehat kepada anak-anaknya agar mereka terhindar dari resiko yang lebih besar terkena DMT2.

Faktor keturunan + Pola hidup sehat = (masih ada) RESIKO DMT2 sebanyak 10%
Faktor keturunan + Pola hidup buruk = Fixed kena DMT2
Saya sudah mengalaminya....!!!
Faktor keturunan + Pola hidup buruk => Obesitas => Fix DMT2.

Semoga bermanfaat dan mohon maaf jika interpretasi saya masih banyak kelirunya.... 🙏🙏🙏

23 Januari 2022

Catatan ke-33: Advice dokter spesialis jantung, teman satu kos waktu SMA

Catatan ke-33: Advice dokter spesialis jantung, teman satu kos waktu SMA


23 Januari 2022 | 

Tadi sore sekitar habis Asar, saya berkesempatan untuk diskusi via telp. tentang DM dengan teman SMA saya. Dia teman satu kos dan sekarang menjadi dokter spesialis jantung. Dia agak terkejut juga ketika tahu bahwa saya terkena DM. Namun itu bukan point utamanya. Yang menjadi fokus pembicaraan adalah pencegahan komplikasi dari DM itu sendiri.

Mungkin sebagian besar anggota grup ini telah mengetahui bahaya dari DM, yaitu berbagai macam kemungkinan resiko komplikasi. Kalau GD tinggi itu mungkin ga terlalu terasa efeknya secara langsung, namun ketika GD tinggi terus-terusan, hal itu akan menyebabkan resiko komplikasi ke berbagai organ vital tubuh. Bisa jadi otak, jantung, ginjal, mata, dan sebagainya. Karena semua organ di tubuh terkoneksi dengan pembuluh darah sehingga kualitas darah yang jelek (GD tinggi) akan memberikan dampak negatif pada organ-organ tersebut.

Fokus dari diskusi saya dengan dia adalah tentang plak di pembuluh darah. Dan SALAH SATU pemicu terjadinya plak tersebut adalah GD tinggi (DM). Jadi meskipun HbA1C dan resistensi insulin sudah turun, bukan berarti aman. Mengapa? Karena selama GD tinggi (yang kita belum tahu kapan mulainya), sebenarnya telah terjadi endapan plak pada pembuluh darah. Plak itu akan luntur dalam jangka waktu cukup lama, sekitar 1-5 tahun (kata dia). Oleh karena itu, orang yang telah terdiagnosa DM, sebaiknya tetap mengelola DM-nya dengan baik agar tidak terjadi penyumbatan pada pembuluh darah.
Teman saya itu mengakui bahwa hasil HbA1C saya baik (5% = 90-an mg/dL) dan resistensi insulin saya juga baik (1,4 < 2,0). BMI saya sudah bagus karena sudah masuk ke kondisi ideal dari yang semula obesitas tingkat 1. Namun demikian, dia sangat menyarankan saya untuk menjaga semua indikator tersebut. Berapa lama? Ya selama mungkin! Agar plak-plak yang telah terbentuk di pembuluh darah saya dapat berkurang. Apalagi saya cerita bahwa beberapa komplikasi DM telah saya rasakan sebelumnya (seperti: penglihatan kadang kabur, sering masuk angin, infeksi telinga setahun lebih, dll.). Saya bilang bahwa setelah treatment IF, LK dan Olah raga selama 3 bulan, semua gejala tersebuh hilang. Namun bukan berarti saya sudah sembuh. Bekas/dampak yang ditimbulkan oleh GD tinggi yang terjadi beberapa tahun sebelumnya, yaitu kondisi plak dalam pembuluh darah tidak dapat hilang dengan cepat. Dia juga menyinggung tentang profil lemak yang berpotensi menambah plak tersebut, serta pengelolaan stress yang baik (Ojo mikir nemen-nemen sing gawe stress...!!!). Dan yang paling menarik dari statement-nya setelah tahu saya melakukan IF 16 jam, LK dan olga serta hanya minum obat GD (metformin) 4 hari saja di awal diagnosa adalah: "Jika pasien DM bisa mengelola pola hidupnya dengan baik, sebenarnya obat merupakan opsi terakhir". 

Dari pembicaraan tersebut saya menarik kesimpulan:
  1. DM itu hanya salah satu penyebab dari gangguan kesehatan, karena jika dilihat secara komprehensif, kegagalan organ vital dapat disebabkan oleh hal selain DM
  2. Memang DM merupakan "mother of disease", namun demikian saya tidak boleh abai dengan penyebab lainnya, seperti profil kolesterol yang buruk, serta keseimbangan enzim dan hormon sebagai penyokong sistem metabolisme tubuh
  3. Pengelolaan stress merupakan satu hal penting yang harus dilakukan untuk menjaga keseimbangan metabolisme.
  4. Diet terbaik (menurut) saya adalah diet dengan komposisi nutrisi yang cukup dan seimbang, serta harus dapat dilakukan dalam JANGKA PANJANG. 

Ternyata DM bukan sesuatu yang ngeri-ngeri amat asal bisa mengelolanya dengan baik. Memang butuh banyak informasi untuk tahu tentang cara-cara mengelola kesehatan secara komprehensif. Namun abai terhadap DM sangat berpotensi untuk memicu terjadinya stroke, gagal ginjal, serangan jantung, berkurangnya fungsi syaraf dan penyakit "berat" lainnya. 

Jika boleh saya mengatakan bahwa berfikir untuk "hanya" menurunkan GD adalah sesuatu yang "kecil". Masih ada hal "besar" lain yg berpengaruh pada kesehatan metabolisme tubuh. Itu semua tergantung dari mindset yang kita bangun. Karena MINDSET merupakan pondasi untuk BERPERILAKU lebih sehat. 

Semoga bermanfaat...
Catatan ke-32: Transformasi

Catatan ke-32: Transformasi


23 Januari 2022

Perubahan cukup ekstrim yang membuat saya senang namun "menghancurkan" hati orang-orang di sekitar saya (kecuali istri saya). 

Pada awal saya terdiagnosis DM pada 30 Sept 2021, pikiran saya yang pertama adalah agar bisa segera pulih, mencegah komplikasi. Hasil belajar saya di awal kena DM adalah mengurangi BB. Ya! Karena kelebihan lemak menimbulkan resistensi insulin dan berbagai macam inflamasi. Akhirnya sy membuat target turun BB ke BMI ideal. Waktu itu awal melakukan treatment pada minggu pertama Oktober 2021, seingat saya BB = 83-85 Kg. Sekarang, BB sudah ideal di 70 Kg. Alhamdulillah....

Namun demikian, ada yg ga terima dengan penurunan BB saya yg cukup ekstrim, sekitar 15 kg dlm waktu 3 bulan. Itulah persepsi orang... Karena sebelumnya sy terlihat montok (gendut), sekarang langsing (ideal). Namun apabila persepsi itu saya ikuti, maka tentu akan menggoyahkan tekat saya dalam memperbaiki kondisi kesehatan saya. 

Berdasarkan pengalaman saya, bagi yg baru kena DMT2, evaluasi berat badan (BB) dulu. Klo overweight, apalagi obesitas, lakukan penurunan BB menuju ke BB ideal. Mau pakai IF, diet keto, defisit kalori, silahkan... Asal pertimbangkan kondisi tubuh. Hasil penurunan BB tergantung dr diet yg dipilih dan konsistensinya.

Ketika sudah ideal, pertahankan BB tsb. Toh jika BB ideal, rasa sehat akan bertambah. Enteng, ga mudah capek, dan lebih bersemangat. 

Catatan saya, ada perbedaan BB turun karena diet vs BB turun karena DM. Kalau makan banyak tp BB turun, itu menandakan resistensi insulin tinggi. Namun jika BB turun karena diet, penurunan tsb memang dikarenakan asupan glukosa rendah sehingga proses pembakaran lemak tubuh (ketosis) berlangsung. Jika resistensi insulin turun, maka BB akan stabil.

Setelah BB ideal, resistensi insulin turun, mulai fokus pada perbaikan sistem pencernaan. Yang saya lakukan adalah konsumsi probiotik agar bakteri baik (mikrobiom) lebih banyak sehingga keseimbangan enzim dan hormon dapat lebih ideal. Paling tidak, itu yg saya pahami sd saat ini.

Proses ketika menurunkan BB itulah kunci dari treatment DM. Karena pada proses itu, terjadi pembiasaan "New Normal" terkait makanan dan minuman yg kita konsumsi. Contoh: awalnya sy melakukan diet low karbo utk mengejar "kesembuhan" DM saya. Namun seiring dg proses, saat ini malah ga tertarik utk makan nasi dkk. Bukannya benci nasi, namun kebiasaan baru itulah yg menyebabkan saya lebih memilih sayuran dr pada nasi, mie dll. Mindset berubah dari "makan enak" menjadi "kecukupan nutrisi". 

Melakukan treatment sambil belajar merupakan langkah ideal. Saya jadinya tahu alasan2 dibalik treatment yang saya lakukan tersebut. Hal itu akan menambah dan mempertahankan motivasi dalam mengubah pola hidup. Tentunya dalam jangka panjang.

Semua proses butuh perjuangan dan "laku prihatin", khususnya bagi yg DM. 

Semoga manfaat 🙏🙏🙏

22 Januari 2022

Catatan ke-31: Mengawali pelajaran tentang "Microbiome"

Catatan ke-31: Mengawali pelajaran tentang "Microbiome"


22 Januari 2022 | 

Saya tertarik dengan konsep ini:

Akar masalah DM tipe 2 sebenarnya bukan berhenti di sel beta pankreas dan resistensi insulin, namun lebih jauh dari itu, yaitu bakteri yang ada di usus kita (microbiome). 

Menurut saya, terlalu banyak pembahasan tentang gejala-gejala (symptoms) DM tipe 2, namun masih sedikit yg membahas akar masalahnya. Padahal dengan tahu akar masalah maka masalah tersebut akan dapat diatasi dengan tepat dan efektif (itu pelajaran yg saya dapat dr promotor ketika konsultasi proposal disertasi)

16 Januari 2022

Catatan ke-30: Hubungan GD Puasa, GD2JPP dan Homa-B sebelum divonis DMT2

Catatan ke-30: Hubungan GD Puasa, GD2JPP dan Homa-B sebelum divonis DMT2


16 Januari 2022 | 

Saya ingin melanjutkan postingan saya tentang isi dari jurnal "Type 2 diabetes: Etiology and reversibility" yang ditulis oleh Roy Taylor pada tahun 2013. Postingan saya sebelumnya dapat dibaca melalui: "Catatan ke-29: Video yang merubah mindset saya".

Dalam jurnal tersebut, saya tertarik pada 3 buah gambar yang disusun berurutan dari atas ke bawah. Di mana, gambar tersebut menunjukkan hubungan GD Puasa, GD2JPP dan Homa-B sebelum divonis DMT2. Satuan waktu (tahun) dalam gambar tersebut dimulai dari beberapa tahun sebelum seseorang divonis mengidap DMT2, yang ditandai dengan hasil Gula Darah Puasa (GDP) sekitar 7,5 mmol (135 mg/dL), GD2JPP sekitar 12 mmol (216 mg/dL) dan HOMA-B sekitar 60-an %.
Jujur sekali, saya ngeri setelah melihat grafik itu karena batasan2 dari "vonis" DM tersebut telah saya lalui semuanya. GD Puasa pernah 307 mg/dL dan Homa-B tinggal 47,1%. Ternyata saya memang positif DMT2. Tapi ga apa-apa, saya sudah menerima dan sekarang berfikir untuk menerapkan solusinya.


Yang menarik dari grafik tersebut (dan uraian dalam jurnal) bahwa sebenarnya sebelum seseorang divonis DMT2, sudah ada tanda-tandanya. Paling tidak, 1-2 tahun sebelum vonis itu datang, sudah ada tanda-tandanya. Ini yang disebut dengan kondisi Pre-Diabetes (menurut saya). Ketika GD Puasa & GD2JPP naik, ternyata di saat itu mulai terjadi penurunan kapasitas sel beta pankreas. Itu harus disikapi dengan serius dan hati-hati. Dan itu terjadi bukan seminggu-dua minggu, namun 1-2 tahun. 

Kalau boleh saya ingin memberikan analogi pada mesin mobil yang mengalami overheat (karena saya pernah mengalaminya sendiri):
Ketika sistem pendingin mobil mulai bermasalah yang disebabkan oleh: air radiator kotor, radiator mampet, adanya kebocoran di sistem pendinginan, maka otomatis proses pendinginan mesin tidak maksimal. Pada kondisi itu, mungkin indikator temperatur pada dashboard mobil akan naik. Nah, driver yang baik ketika melihat melihat indikator temperatur naik, pasti akan berhenti untuk mendinginkan mesin mobil. Paling tidak membuka kap mobil dan memeriksa kondisi dari sistem pendinginan tersebut. Tujuannya apa? Agar tidak terjadi overheat mesin mobil sehingga membuat mesin jadi rusak. Bagi driver yang "asal-asalan" injak gas (kurang pengalaman), dia ga peduli indikator temperatur naik. Yang penting mobil tetap jalan dan sampai tujuan, meskipun resiko mesin rusak semakin besar.
Tanda-tanda DMT2 sebenarnya dapat dirasakan sebelumnya. Ini terjadi pada kondisi Pre-Diabetes. Pada analogi di atas, hal ini terjadi ketika indikator temperatur naik. Apa yang seharusnya dilakukan? Ya berhenti dan menepi. Periksa kondisi tubuh dengan melakukan beberapa tes lab agar tahu dengan jelas keadaannya. Jangan asal hajar saja dan berasumsi yang macam-macam. Bisa cek GD Puasa, HbA1C atau Insulin Puasa (untuk tahu resistensi insulin dan kapasitas sel beta pankreas). Jika hasil tes memang menyatakan pada kondisi Pre-Diabetes, ya lakukan treatment atau ikhtiyar untuk mengembalikan kondisi tubuh ke normal, dan jangan sampai masuk ke kondisi DMT2.

Percaya saja, biaya turun mesin mobil lebih mahal dari pada memperbaiki sistem pendingin mobil (radiator dkk.). Saya jamin akan menyesal di belakang hari. Hal ini telah saya alami ketika mesin mobil saya rusak saat naik ke gunung. Padahal sebelumnya saya sudah kepikiran untuk service radiator (pada akhirnya tidak saya lakukan karena malas dan waktu terbatas). Jika dibandingkan, biaya service radiator sebesar Rp200an ribu jauh lebih murah dari pada biaya turun mesin mobil diesel sebesar Rp8 jutaan. Bahkan kalaupun ganti radiator yang baru seharga Rp1 jutaan, itu masih jauh lebih murah dari pada biaya turun mesin.

Sayangnya, organ dalam kita dijatah 1 saja. Seperti pankreas sebagai penghasil insulin (terkait tes HOMA-B), jumlahnya hanya 1. Teknologi transplantasi pankreas masih dalam uji coba dan terus dikembangkan. Yang pasti akan sangat mahal dan beresiko. Lain dengan spare part mobil yang jumlahnya sangat banyak. Mau ganti mesin (switch engine) juga bisa. 
Mungkin rekan-rekan di sini yang memang sudah positif terkena DMT2 sebaiknya menerima kondisi dan tetap berikhtiyar untuk memperbaiki kualitas kesehatannya. Ada berbagai metode, namun pertimbangkan yang dapat dilakukan dengan enjoy dan BERKELANJUTAN (jangka panjang). Mau diet ketofastosis, low karbo, very low karbo, atau pakai herbal/medis, silahkan saja. Namun pelajari resiko dari masing-masing treatment tersebut. Yang jelas, berfikirlah untuk keberlanjutan jangka panjang. 

Yang sedang menyongsong DMT2 (kondisi Pre-Diabet), belajarlah dari yang telah divonis DMT2. Berhentilah sejenak dan berfikirlah untuk mulai mengubah pola hidup sehat. Gunakan otak dan sumber daya yang ada untuk belajar tentang kesehatan. Sudah banyak sumber di jaman internet saat ini. Jangan sampai terlanjur masuk ke kondisi DMT2 sehingga akan memerlukan "laku prihatin" yang lebih berat dalam mengelola kondisi tersebut.

Dan bagi yang masih normal, bersyukurlah. Jaga amanah Tuhan yang berupa kesehatan tersebut, karena itu merupakan salah satu aset yang "mahal" ketika sudah merasakan sakit. Mulai buka pikiran dengan pengetahuan tentang kesehatan. 

Jangan sampai seperti saya, abai terhadap "indikator" DMT2 yang telah menyala sahingga divonis DMT2.

Semoga tulisan ini bermanfaat....
Catatan ke-29: Video yang merubah mindset saya

Catatan ke-29: Video yang merubah mindset saya


16 Januari 2022 | 

Sebelumnya saya berterima kasih pada Dr. Jason Fung yang telah menyebarkan video seminar/kuliahnya tentang mengelola diabetes. Video itu berjudul: "Two Big Lies about Type 2 Diabetes" (link: https://youtu.be/FcLoaVNQ3rc). Saya telusuri video-video dari Dr. Fung tersebut dan memang terjadi pro dan kontra. Yang mempermasalahkan bukan orang awam biasa seperti saya, namun para ahli/pakar kesehatan. Namun apapun itu, melalui video tersebut, saya dapat mengubah mindset dan mendapatkan hasil positif secara signifikan setelah melakukan treatment yang disarankan oleh Dr. Fung. Thanks Dr. Fung....

Sebelum saya divonis DM "tanpa sengaja" dengan hasil lab GD Puasa 307 pada 30 September 2021, sebenarnya beberapa komplikasi telah saya alami. Namun saya ga sadar jika itu merupakan komplikasi akibat GD tinggi. Mau tahu komplikasi apa saja? Ini listnya:
  1. Infeksi telinga kanan selama 1 tahunan, mulai awal 2020
  2. Caries (pengeroposan) gigi geraham kiri atas selama 3 bulan
  3. Sering pipis dan selalu haus 
  4. Sering masuk angin (2-3 kali seminggu selalu blonyohan/kerokan minyak GPU)
  5. Tidak fokus dalam berfikir
  6. Makan banyak tapi BB turun

Semalam, saya tonton video itu lagi dan mencoba mencari salah satu jurnal yang digunakan Dr. Fung dalam seminar/kuliah-nya tersebut. Akhirnya ketemu dan saya sangat tertarik untuk membacanya. 
Jurnal yang ditulis oleh Roy Taylor dengan judul "Type 2 diabetes: Etiology and reversibility" yang diterbitkan di Jurnal Diabetes Care volume 36(4) tahun 2013 halaman 1047–1055 (link: https://doi.org/10.2337/dc12-1805), cukup membuat saya “tersenyum”. Ternyata (mungkin) beranjak dari jurnal tersebut, para “pakar” diet, bisa meng-klaim bahwa Diabetes Tipe 2 (DMT2) dapat diatasi tanpa obat medis. Saya paham itu, hahaha.....

Dalam jurnal tersebut, salah satu bagian terpenting yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini adalah di bagian “Implication for management of type 2 diabetes”. Saya kutip sedikit statement yang saya terjemahkan bebas:
“Peran aktivitas fisik harus diperhatikan. Peningkatan aktivitas fisik harian menyebabkan penurunan "fatty liver” (43), dan satu jenis olahraga secara substansial menurunkan lipogenesis de novo (39) dan VLDL (very low density lipoprotein) plasma (92). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kontrol kalori yang dikombinasikan dengan olahraga jauh lebih berhasil daripada pembatasan kalori saja (93). Namun, program olahraga saja tidak menghasilkan penurunan berat badan bagi orang paruh baya yang kelebihan berat badan (94). Penurunan berat badan awal yang diperlukan membutuhkan pengurangan substansial dalam asupan energi. Setelah berat badan turun, kestabilan berat badan paling efektif  dapat dicapai dengan kombinasi diet dan aktivitas fisik. Latihan aerobik dan pembatasan kalori merupakan upaya yang efektif (95). Faktor terpenting adalah keberlanjutan.”
Saya memegang kuat kalimat terakhir dari kutipan di atas. KEBERLANJUTAN...!!! Jadi dalam mindset saya, apabila ingin menjaga agar DM tidak mengarah pada komplikasi, lakukan upaya yang BERKELANJUTAN. Oleh karena itu, tujuan utama saya selama 3 bulan melakukan Intermittent Fasting (IF), Diet low karbo dan olah raga beban/HIIT sebenarnya untuk membentuk perilaku baru (NEW NORMAL) dalam mengelola diabetes yang saya alami.

HbA1C saya boleh turun dari 8,2% menjadi 5,0%. Berat badan saya yang semula sekitar 85 Kg boleh turun menjadi 70 Kg dalam waktu 3 bulan ini sehingga saya masuk ke dalam BMI ideal (TB = 173 cm; BB = 70 Kg). Resistensi insulin (HOMA-IR) = 1,4 yang menunjukkan saya normal ( HOMA-IR < 2). Namun mau berapa lama mempertahankan kondisi itu jika perilaku tidak berubah? Jawaban logisnya adalah PERUBAHAN PERILAKU. Ingat, saya dulu orang normal, tidak punya masalah apa2 terkait sindrom metabolik. Namun karena perilaku makan banyak jarang gerak, akhirnya saya mengalami obesitas dan akhirnya berakhir di DMT2. Saya ga mau DMT2 berlanjut ke komplikasi.

Pemikiran saya:
Jika ingin tahu tentang kondisi tubuh terkait DMT2, maka lakukan screening awal. Ga usah menebak-nebak apakah saya kena DMT2 atau ga? Lha wong sudah masuk ke Pre-Diabetes saja sudah “zona kuning” kok. Tes-tes yang sudah pernah saya lakukan antara lain:
  1. GD Puasa
  2. Glucose Tolerance Test (GTT)
  3. Insulin puasa (untuk menentukan HOMA-IR & HOMA-B)
  4. Profil lemak

Dari hasil tes tersebut, saya positif DM dan lebih spesifik lagi, masalah saya di penurunan kapasitas sel beta pankreas. Dengan demikian, saya bisa fokus pada AKAR MASALAH DMT2 yang saya hadapi. 
Namun dari itu semua, saya menekankan pada KEBERLANJUTAN treatment yang saya lakukan agar kualitas hidup lebih baik, lebih sehat sehingga mimpi besar saya dapat saya capai. Klo sakit, produktivitas hidup akan berkurang. Yakin deh....

Semoga bermanfaat....

14 Januari 2022

Catatan ke-28: Contoh makanan Low karbo

Catatan ke-28: Contoh makanan Low karbo

14 Januari 2022 | 

Contoh makanan low karbo. Cukup dikukus saja. Ngukusnya juga jangan kelamaan agar vitamin2nya ga banyak yg hilang. Cukupkan untuk sterilisasi makanan saja. 

Makan porsi segitu utk 2x makan InsyaAllah kenyang... Lauknya nanti menyesuaikan. Tapi saya selalu makan tahu karena bagus utk recovery pankreas. 

Ini cara yang moderat bagi saya, ga ekstrim2 amat. Karena salah satu indikator diet adalah keberlanjutan jangka panjang. Kenyamanan dalam diet merupakan salah satu hal penting untuk menjamin kelanggengan diet itu sendiri.



10 Januari 2022

Catatan ke-27: Hasil tes yang bikin terkejut dan membahagiakan

Catatan ke-27: Hasil tes yang bikin terkejut dan membahagiakan


10 Januari 2022 | 

Tes HbA1C di lab yang sama tapi selisih 3 bulan kurang seminggu. Angka 8,2 % menjadi 5,0 %.

Alhamdulillah ya Allah... Meskipun profil lemak masih kurang memuaskan, tapi itu cukup "mudah" untuk memperbaikinya. Saya tahu mengapa kok profil lemaknya begitu, dan itu juga menjadi evaluasi pribadi saya.

Namun apakah terapinya selesai dan kondisi dianggap "sembuh"? Belum...!!! Masih ada jalan panjang untuk regenerasi sel BETA PANKREAS. Dan prosesnya TAK SEMUDAH menurunkan HbA1C. 
Berdasarkan konsultasi dengan dokter di Solo yang menjadi konsultan salah satu perusahaan nutrisi & kesehatan nasional, dibutuhkan penataan kembali sistem pencernaan secara komprehensif agar regenerasi sel Beta Pankreas dapat efektif.

Beliau memberikan 👍👍👍 pada proses yg telah saya lakukan. HbA1C turun 3 point itu sesuatu yang 👍👍👍. Namun beliau juga mengingatkan, bahwa diet LK, IF dan Olah Raga itu seperti "rem" GD tinggi. Klo mau regenerasi sel beta pankreas, perlu perbaikan "mesin", dalam hal ini adalah sistem pencernaan.

Okey deh, masuk ke tahap berikutnya. REGENERASI SEL BETA PANKREAS...!!! Kalau nda ketahuan GD Puasa 307 di 30 Sept 2021, mungkin ga akan konsen dengan kondisi tubuh seperti sekarang ini. (untung sih konangan... 😃)

Bismillah...

07 Januari 2022

Catatan ke-26: Mengawali buku THANKS TO DMT2 (3 Bulan menurunkan resistensi insulin)

Catatan ke-26: Mengawali buku THANKS TO DMT2 (3 Bulan menurunkan resistensi insulin)

7 Januari 2022 | 

Bismillah.... Penulisan buku Original Story ini dimulai. Niatan yang semula hanya untuk "warisan" kepada anak-anak dan keluarga, akhirnya menyebar dan membesar agar dapat dijadikan inspirasi oleh banyak orang. Sebetulnya tujuannya ga muluk-muluk sih... Lha wong cerita kok tentang penyakit yang diderita.

Namuuun..., semoga buku ini nanti dapat bermanfaat dan menjadi inspirasi. Itu saja sih...



06 Januari 2022

Catatan ke-25: Hasil tes HOMA-IR dan HOMA-B (akhirnya tahu dengan pasti apa yang perlu dilakukan)

Catatan ke-25: Hasil tes HOMA-IR dan HOMA-B (akhirnya tahu dengan pasti apa yang perlu dilakukan)


6 Januari 2022 | 

Hari ini hasil tes HOMA-IR dan HOMA-B sudah keluar. Hasilnya, resistensi insulin saya di kisaran normal, meskipun terlalu mepet ke ambang atas. Namun kapasitas sel Beta Pankreas cukup menyedihkan, yaitu 47%. Normalnya > 70%. 

Sesuai perkiraan, asal lemak tubuh bisa turun, resistensi insulin juga akan mengikuti. Namun memang untuk masalah regenerasi sel beta Pankreas itu sesuatu yg lain... Kalau hanya menormalkan gula darah, itu mudah. Menurunkan resistensi insulin juga udah terlaksana selama 3 bulan ini. Lha, menaikkan kadar sel Beta Pankreas...??? Tunggu 3 bln lagi deh... 

Next step: Regenerasi sel beta Pankreas 💪💪💪

02 Januari 2022

Catatan ke-24: Kunci awal menangani diabetes type 2 (DMT2) adalah MINDSET

Catatan ke-24: Kunci awal menangani diabetes type 2 (DMT2) adalah MINDSET


2 Januari 2022

Kemakan oleh mindset sendiri, itulah yang terjadi pada diri saya. Terlebih, sekarang saya tengah berjuang dalam "laku prihatin" untuk mengembalikan sensitivitas insulin dan regenerasi sel Beta Pankreas. Ceritanya begini:

Saya ingat waktu itu tahun 2007, ketika saya kerja menjadi admin di Magister Manajemen Agribisnis (MMA) UGM sambil menjalani beasiswa S2. Kelebihan uang bagi seorang bujangan membuat saya kalap dan lari ke makanan. Apalagi ketika kuliah S1, semua serba terbatas. Tubuh yang awalnya ideal (TB 173; BB 65) beranjak tambun. Dosen saya pernah "mengingatkan" untuk ga berlebihan ketika makan krn resiko penyakit. Waktu itu saya jawab: "Ga apa-apa pak. Saya konsumsi herbal juga kok. Biar obat yang menangkal penyakit saya" (kira-kira begitu). 

Mulai dari saat itu, mindset saya adalah: "Kalau sakit ya minum obat. Soal makanan sehari-hari, sikat aja apa yang ada." Dan ga terasa, dalam perjalanan hidup saya, pernah mencapai rekor 95 Kg. Kereeen....!!! Makmur deh!

Namun ternyata MINDSET saya salah! Obat ga bisa mencegah seseorang terkena DMT2 jika pola makannya awur2an dan cenderung berlebihan. Apalagi jika memang sudah positif DMT2, hanya mengandalkan obat saja ga akan mengatasi akar masalahnya! Dan saat ini saya telah termakan oleh MINDSET saya tersebut.

Keyakinan saya itu terkonfirmasi ketika kemarin malam saya silaturahmi ke salah satu teman. Ketika dia melihat perubahan pada tubuh saya, dia tanya: "Kowe kenopo mas, kok kurus?" Ya saya jawab jika saya kena DMT2 dan sedang berusaha memulihkan kondisi. Cara yang saya lakukan adalah Intermittent Fasting, diet Low Karbo dan olah raga beban (HIIT), bla...bla...bla.... Yang menarik bukan di bagian itunya, namun ketika dia membuka cerita tentang kronologi ayahnya meninggal lantaran gagal ginjal yg diawali dengan DMT2 beberapa tahun sebelumnya. Ceritanya begini:

Pada saat awal ayahnya kena DMT2, sebenarnya ada 2 orang tetangganya yang juga kena. Ayahnya itu setiap bulan rajin ke dokter, kontrol dan pulang bawa obat. Selama beberapa tahun itu, ayahnya konsumsi obat DM. Namun..., ayahnya ga mau meninggalkan makanan enak-enak, alias ga mau mengubah pola hidup. Dosis obat yg semula sedikit, lama-kelamaan meningkat dan akhirnya menggunakan injeksi insulin. Mindset ayahnya adalah: "Sudah minum obat ya boleh makan seperti orang normal, sama ketika sebelum terkena DMT2." Pada akhirnya ginjalnya yang bermasalah.

Teman saya melanjutkan ceritanya tentang dua orang tetangganya yang sama-sama kena DMT2. Yang jelas saat ini mereka masih sehat. Kontrol ke dokter tetap dilakukan, namun mereka bisa mengubah pola makan. Ditambah dengan rajin puasa.

Intinya: 
Mengawali penanganan atau manajemen DMT2 tanpa MINDSET yang benar, hasilnya ga akan memuaskan. Bagi saya, MINDSET yang benar itu adalah membentuk NEW NORMAL, dengan mengelola makanan, olah raga, pikiran dan spiritual. Lupakan "NORMAL" seperti saat sebelum kena DMT2 karena meskipun RESISTENSI INSULIN sudah menurun dan SEL BETA PANKREAS telah bertambah, namun pola hidup yang salah tetap akan beresiko menyebabkan DMT2 lagi. Apalagi saat ini banyak orang yg berfikir hanya MENORMALKAN GD, bukan memperbaiki akar masalahnya.

Jangan masuk ke lubang yang sama untuk kedua kali.
Catatan ke-23: Glukomannan dari Konjak (porang): manfaatnya bagi penyandang Diabetes Type 2 (DMT2)

Catatan ke-23: Glukomannan dari Konjak (porang): manfaatnya bagi penyandang Diabetes Type 2 (DMT2)


2 Januari 2022 | 

Mengapa produk-produk "Shirataki" menjadi produk yang premium? Berikut ulasannya:

Porang merupakan komoditas pertanian yang sempat booming beberapa waktu lalu dan menjadi komoditas ekspor Indonesia. Dari tepung porang (konjak) ini berbagai makanan "mahal" seperti nasi atau mie shirataki yang menjadi andalan penyandang DMT2 dibuat. Lalu apa dan mengapa tepung konjak ini memiliki keistimewaan tersendiri? Yuh, kita lihat hasil penelitiannya berikut ini.

Konjak atau porang merupakan bahan yang mengandung serat makanan tinggi, di mana serat makanan tersebut ternyata berpengaruh pada sistem pencernakan tubuh, peningkatan sensitivitas insulin, sekresi hormon tertentu pada usus dan anti-inflamasi. Dengan demikian, banyak manfaat dari serat makanan yang dibutuhkan oleh penderita DMT2. 

Apa spesialnya dari konjak?

Konjak yang bernama latin Amorphophallus konjac ternyata memiliki senyawa yang disebut dengan Glukomannan, yaitu senyawa yang larut dalam air. Senyawa ini merupakan salah satu serat makanan paling kental yang dikenal karena kemampuannya menyerap air secara efektif. Salah satu keuntungan dari glukomannan adalah merupakan serat makanan yang tidak dapat dicerna, yang telah dikenal membantu dalam menurunkan kadar kolesterol, modifikasi metabolisme mikroba usus, dan penurunan berat badan. Bagi penyandang DMT2, keuntungan glukomannan antara lain adalah:
  • Dapat menunda pengosongan lambung dengan memodulasi tingkat penyerapan nutrisi dari usus halus dengan meningkatkan sensitivitas insulin
  • Membuat penyerapan glukosa makanan secara lebih bertahap dan mengurangi peningkatan kadar gula darah
  • Memperbaiki kontrol glikemik dan profil lipid (lemak) darah pada individu diabetes yang memiliki risiko tinggi, dan mungkin meningkatkan efektivitas pengobatan konvensional pada DMT2
  • Mengurangi indeks glikemik efektif makanan bila diberikan sebelum atau selama makan
Intinya, glukomannan pada konjak mampu membantu penderita DMT2 dalam mengelola kadar gula darahnya agar tidak melejit. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa muncul produk-produk premium (relatif mahal) yang menggunakan bahan baku tepung konjak, seperti:
  • Mie shirataki
  • Beras shirataki
  • dan lain-lain
Demikian sedikit ulasan dari literatur yang telah saya baca. Semoga bermanfaat.

27 Desember 2021

Catatan ke-22: Uji coba makan bakso untuk pertama kali setelah treatment

Catatan ke-22: Uji coba makan bakso untuk pertama kali setelah treatment


27 Desember 2021 |

Jangan dicoba kalau belum yakin...!!!

Ini adalah bakso pertama saya setelah sekian bulan melakukan IF, diet Low Karbo dan Olah Raga. Di gunung, hujan2, udara dingin... Enak bgt makan bakso.

GDS sebelum makan 109
GD 1 jam setelah makan 138
GD 2 jam setelah makan 120

Saya juga heran, mengapa hasilnya bisa begitu ya? Padahal hanya duduk di depan laptop saja setelah makan bakso 😃

24 Desember 2021

Catatan ke-21: Turun GDP tanpa obat, hanya diet Low karbo, IF rata-rata 12-16 jam dan olah raga beban (HIIT)

Catatan ke-21: Turun GDP tanpa obat, hanya diet Low karbo, IF rata-rata 12-16 jam dan olah raga beban (HIIT)


24 Desember 2021

Gambar ini adalah data GDP saya sejak 30 September 2021, di mana GDP saya terdeteksi 307. Pagi ini GDP saya 98, yang berarti "normal" karena < 100. Dengan data ini, saya berharap hasil tes HbA1C nanti (pertengahan Januari 2022) akan turun dari 8,2% ke ....???? 

Terinspirasi dari pak Wisnu Ali Martono tentang cerita kepada dokternya, seandainya semua pasien DM memiliki data seperti ini, dokternya pasti akan lebih terbantu dalam melakukan analisa tindakan yang diperlukan. Namun hal itu juga tidak mudah, mengingat tidak semua penderita DM memiliki Glukometer dan stiknya (Saya menghabiskan hampir 2 tabung stik glukometer dalam 2,5 bulan = kira2 Rp180ribuan).

Namun demikian, dalam berproses menurunkan GD Puasa, banyak pengalaman dan pembelajaran yang didapat. Yang terpenting adalah "niteni" respon tubuh terhadap makanan dan kondisi tertentu sehingga akan tahu sendiri pantangan-pantangan yang harus dihindari untuk menjaga GDP < 100.

Next step: 
Recovery sel beta pankreas dan kinerja pencernaan di lambung.

Hmmm..., kira2 data ini bisa buat modal minta rujukan tes HOMA ndak ya? Semoga dokternya mau ngasih... 😅

23 Desember 2021

Catatan ke-20: Jahe sachet anget di ketinggian 1500 mdpl

Catatan ke-20: Jahe sachet anget di ketinggian 1500 mdpl


23 Desember 2021 |

Kenalakan saya jangan ditiru ya. Perjalanan dari Purwokerto ke gunung pakai sepeda motor dalam kondisi dingin memang menantang. Sampai di gunung, mampir ke greenhouse yg sedang dibangun oleh anak-anak muda anggota Gapoktan. Dingiiin...

Sampai situ, saya melihat pada minum kopi dan jahe anget. Mereka sudah tahu kalau saya sedang menghindari minuman sachet, karena pasti mengandung gula. Namun antara kepingin dan penasaran, saya minta dibikinkan jahe sachet. Berapa GD 1 jam setelah minum? Nanti akan tahu jawabannya di kos-kosan.
😃

Dan ternyata... GD saya setelah 1 jam adalah 129.

17 Desember 2021

Catatan ke-19: GD2JPP & sesendok nasi putih

Catatan ke-19: GD2JPP & sesendok nasi putih


17 Desember 2021 |

Berawal dari makanan tadi siang yg memang saya sisakan utk makan malam, ternyata kebanyakan. Ditambah lagi masih ada daging ayam yg harus dihabiskan. Akhirnya saya bikin angetin lagi dengan dicampur semuanya.

Habis makan, ternyata temen saya bikin masakan ayam berkuah dicampur saus tiram. Menggoda selera deh... Ditambah dia bawa nasi sepiring... Hmmm....

Akhirnya..., keimanan saya jatuh! Saya nyoba masakannya enaaak bgt. Trus saya lirik nasi putih yg dibawanya. Akhirnya, ambil 1 sendok, dimakan sama ayam kuahnya.

2 jam setelahnya trus tes tusuk. Masih aman.... 😁

Makanan saya:
Ayam, tempe, tomat, wortel, terong ungu, kubis dan bumbu dapur.

16 Desember 2021

Catatan ke-18: Mie ayam, teh manis dan GDP 2 digit

Catatan ke-18: Mie ayam, teh manis dan GDP 2 digit


16 Desember 2021 |

Kemarin, saya ngajak temen saya untuk fotokopi kuesioner penelitian dan belanja ATK untuk mendukung proses riset saya di gunung. Tempat fotokopinya lumayan jauh, karena harus turun ke kota terdekat (kota Bumiayu). Saya tahu kalau temen saya itu suka banget dengan mie ayam. Dalam perjalanan pulang, saya menawarkan ke dia untuk mampir ke warung mie ayam, sekedar untuk menghargai keinginan dia makan mie ayam. Saya tahu dia "pekewuh" dengan saya karena saya dulu adalah dosen pembimbing skripsinya. Saya bilang saja: "Klo mau mie, ya makan saja. Saya mau minum teh dan makan buah pir saja". Lalu saya duduk dekat dia dan sempat mengfoto dia ketika makan mie ayam dengan enaknya (mengingat makanan ini adalah favorit saya sebelum diet Low Karbo. Apalagi klo makannya di gunung.... Yummy.....).

Saya pesen teh panas dan dengan 1 sendok teh gula (wkwkwkwk..... Nakal...!!! "Penjorangan" klo kata orang Banyumas). Bayangan saya dikasih gelas besar, ternyata gelasnya kecil. Ya ga apa2 deh... Saya minum (muaniiiis bgt di lidah) sambil makan buah pir yang saya bawa. Lumayan buat buka puasa setelah IF 16 jam.

2 jam setelah minum teh manis tersebut, penasaran lihat GDS. Ternyata masih di kisaran normal yaitu 104 mg/dL. Okey deh, lanjut masak buat makan. Menu kali ini masih sama dengan hari2 sebelumnya, yaitu kukusan labu siam dan sayuran lainnya. Cuma yang istimewa adalah orak-arik tahu+telur yang saya buat, saya tambahi hati ampela ayam yang sempat saya beli di Bumiayu tadi (di gunung klo mau beli ayam harus 1 ekor, dan itu kebanyakan klo dimakan untuk 2 orang). 

Hari-hari saya masih seperti biasanya. Malam kerja sampai tengah malam dan tidur sekitar jam 1 pagi. Namun berdasar percobaan yang dilakukan pak Wisnu Ali Martono, untuk menjaga GDP 2 digit, sebelum tidur makan protein. Lha, saya punyanya kacang, jadinya jam 12 malam ngemil kacang. Berapa gram saya ga tahu, tapi gambarannya sekitar 1 genggaman tangan deh. Penasaran juga untuk ngerti GDP-nya berapa. 

Tidur jam 1 pagi, jam 5 bangun utk subuhan, trus tidur lagi karena ngantuk dan udara duuuingiiin banget (sekitar 15 derajad). Bangun lagi sekitar jam 8 pagi. Habis itu cek GDP dan hasilnya 2 digit.

Alhamdulillah.....

Itu cerita saya tentang DM hari ini.

14 Desember 2021

Catatan ke-17: Mulai konsen untuk pembenahan sel Beta Pankreas (sel penghasil hormon Insulin)

Catatan ke-17: Mulai konsen untuk pembenahan sel Beta Pankreas (sel penghasil hormon Insulin)



14 Desember 2021 |

Tadi tidur jam 01.30 pagi. Subuh bangun sebentar lalu tidur lagi. Bangun Tahu2 jam 9 pagi. Langsung cek GDP utk koleksi data. Alhamdulillah 2 digit setelah IF 12 jam.

Namun yang menarik dari searching semalam, omega-3 direkomendasikan beberapa pakar kesehatan utk dikonsumsi jika ingin memperbaiki Beta Cell di Pankreas.

Dimulai dari hal ini, saya tertarik pada recovery atau (mungkin) regenerasi sel Beta Pankreas yang merupakan produsen insulin alami dalam tubuh. Sepemahaman saya sampai dengan saat ini, penyebab DMT2 (Diabetes Melitus Tipe 2) adalah:
  1. Resistensi Insulin, yang membuat glukosa di dalam darah tidak bisa masuk ke dalam sel tubuh.
  2. Penurunan kapasitas Sel Beta Pankreas, yang menyebabkan produksi insulin tidak cukup untuk membawa glukosa agar dapat masuk ke dalam sel.
Jadi secara logika, bagaimana caranya untuk meningkatkan kapasitas sel Beta Pankreas? Itu masih menjadi suatu pertanyaan besar bagi penyintas diabetes. Jika masalah itu tersolusikan, InsyaAllah penyintas diabetes akan memiliki harapan lebih baik untuk mengelola kesehatannya.

Okey deh, kapan2 lanjut searching jurnal ilmiahnya. Tambah semangat utk mempelajari regenerasi Beta Cell... 👍👍👍

Nah..., berikut ini ada sebuah jurnal yang berkaitan dengan bahan baku Omega-3 yang lumayan tinggi namun berasal dari bahan non-ikan. Alias, bahan baku itu bisa dibudidayakan. 

"...konsumsi biji SI (Sacha Inchi), minyak dan kue tanpa minyak menghasilkan banyak manfaat kesehatan, terutama dalam pengelolaan penyakit radang kronis dan dengan demikian, dapat membantu dalam memerangi epidemi global penyakit kronis..."

"Karena minyak biji SI rentan terhadap oksidasi pada suhu tinggi; diperlukan identifikasi metode pemrosesan dan teknologi enkapsulasi yang sesuai untuk pengiriman asam lemak omega-3 yang efisien. Hal ini juga menjadi penting dan penting untuk mengkonsolidasikan data yang ada dan temuan terbaru untuk menentukan kondisi produksi yang optimal, aspek fungsional, keamanan, aplikasi makanan dan kemanjuran benih SI dan produk sampingannya, yang tidak hanya akan melepaskan manfaat kesehatan terkait tetapi juga akan membantu dalam pengembangan makanan bernilai tambah, nutraceuticals dan aditif makanan di masa depan."

Sumber: https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0308814621024651 


13 Desember 2021

Catatan ke-16: Menu makan Low Karbo Model Kukusan

Catatan ke-16: Menu makan Low Karbo Model Kukusan


13 Desember 2021 |

Ada yang khawatir mau diet Low Karbo, ga makan nasi ga kenyang....???
Berikut ini merupakan menu buka puasa saya: - Daun labu siam (dikasih tetangga) - Labu siam (dikasih tetangga) - Kubis (dikasih tetangga) - kembang kol - Bandung presto - tempe Hasilnya sangat mengenyangkan. Dulu hanya butuh 1-2 minggu utk adaptasi lepas dr nasi. Sekarang makan menu seperti itu sdh sangat kenyang. Habis makan, ngemil kacang rebus 😁